“Tinggalkanlah gengsi,
hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi,
agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli ‘tuk
ironi tragedi
Senang bahagia, hingga
kelak kau mati”.
Begitulah kata
abang Bondan dengan lagu nya “Hidup Berawal Dari Mimpi”. Sampai tua gini ada
gak yang belum punya mimpi ? Sungguh kalian adalah orang-orang yang merugi
kalau begitu. Gue jadi inget masa-masa pas gue sekitar umur 5 tahun-an. Ya,
dengan tampang polos setiap kali gue ditanya sama ayah-bunda atau om-tante, “Nanti
kalo udah gede cita-citanya mau jadi apa ? “, sambil mencubit lembut pipi gue
gitu sekiranya mereka bertanya. Gue jawab dengan tampang polos dengan sedikit
menyedot ingus yang hampir keluar dari terowongan, “Mau jadi pak po-li-syi...
sroot , teyus nanti nangkepin cemua maling-maling “. Wogh, luar biasa bocah
ingusan usia 5 tahun cita-citanya mau nangkepin maling (walaupun udah gedenya
kagak kesampean *uhuk).
Tapi coba deh
dibayangin, waktu kecil itu belum pernah gue dengar dari mulut teman-teman
se-tk-an gue atau se-sd-an gue cita-cita mereka yang enggak bagus, pasti
bagus-bagus semua. Dari yang mau jadi dokter, guru, polisi, pilot, dll.
Pokoknya semua cita-cita mereka itu bagus-bagus. Sayang, entah waktu yang
menghapus cita itu atau mereka yang lupa dengan apa yang mereka cita-kan.
Seperti waktu yang selalu berubah, kita juga berubah. Menurut gue kita enggak
lupa dengan apa yang kita cita-kan, menurut gue waktu juga enggak menghapuskan
cita itu begitu aja. Hanya saja mungkin kita berfikir suatu hal lain di mana
cita itu terkubur jauh di bawah hal-hal yang kita fikirin. Sebenarnya kita
inget dengan baik apa yang kita cita-kan dari kita kecil, apa yang selalu kita
jawab pada semua orang dengan muka polos kita mendeskripsikan apa yang kita
inginkan waktu kita menjadi dewasa nanti.
Setelah dewasa atau
menjelang dewasa, pada masa di mana sekarang gue berada. Gue duduk dan
berfikir, “ Kenapa gue jauh berbeda dari apa yang gue katakan waktu gue kecil
dulu ? “. Yah, mungkin itu hanya sekedar ocehan bocah yang belum mengerti
apa-apa, tapi coba dari kecil sampai gue sekarang gue terus inget semua
cita-cita gue dan enggak pernah lupa sekalipun. Mungkin ada perbedaan yang
mencolok. Cita-cita itu mimpi bro, kita cuma bisa menghayal tentang apa yang
bisa kita dapetin pada waktu setelah detik sebelumnya, pada masa depan
tepatnya. Pada masa yang kita sendiri enggak tahu apa yang akan terjadi.
Bener tuh kata-kata
nya di lirik abang Bondan, “Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi”.
Waktu masih kecil kita enggak kenal gengsi, yang kita tahu yang penting main
dan seneng-seneng. Kita seakan-akan memerankan diri kita yang akan ada pada masa
depan, bermain selayaknya dokter yang memeriksa pasiennya atau bermain
masak-masakkan selayaknya seorang juru masak terkenal. Lucu memang kalau
diinget-inget, tapi secara tidak sadar dari kecil aja kita udah bercita-cita,
iya bermimpi dari kecil kita sudah bermimpi loh. Itu benar, walaupun kita
enggak tau nanti kita jadi atau enggak.
Gue punya saran
buat anak-anak tk yang selalu bersemangat dan ceria, “ Adik-adik-ku yang cantik
dan ganteng dan pinter, terimakasih karena kalian sudah bermimpi. Terimakasih
cita-cita kalian itu adalah mimpi kalian. Kalian enggak perlu mikir terlalu
keras, hanya saja pesen kakak, teruslah bersandiwara layaknya apa yang kalian
cita-citakan. Bermain lah seperti itu sampai nanti kalian dewasa biar kalian
bisa inget terus sama mimpi kalian itu. Biar mimpi itu bisa kalian nyatakan
dengan sebenar-benarnya !”.
“I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makse it worth the while
Pushing through the darkness still another mile”.
I Have a Dream –
Westlife. Memang bermimpi itu menyenangkan tapi menyatakan mimpi itu merupakan
tujuan mengapa kita perlu mimpi. Pada hidup gue membawa banyak sekali mimpi
kedalamnya yang semuanya ingin jadi nyata. Sebenarnya enggak ada kata telat
untuk tidak bermimpi, karena sebenarnya dari awal semuanya sudah benar. Untuk
closing ada sedikit kutipan dari otak gue hehe, “hidup ku awali dengan
bermimpi, meyakini, dan menyatakannya di bumi ini”. Keep your dreams high and
remember it !