Sabtu, 26 Januari 2013

26 Januari



Fajar sudah duduk disinggahsana-nya
Mencoba menyapa seluruh rakyat di bawah-nya
Aneh ..
Suaranya parau dan mukanya pucat
Tubuhnya bergetar saat ia melempar kata

            Sudah tiga senja sampai sekarang
            Ia menyembunyikan sinar-nya entah dimana
            Tak biasanya fajar begini
            Seperti raja tak ada mahkota

Andai aku bisa temukan sinar-nya
Cukup untuk kembalikan pada sang raja
Agar rakyat-nya tak pergi saat ia berkata
Supaya langit tak selalu berkaca ..

Mimpi


“Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedi
Senang bahagia, hingga kelak kau mati”.

     Begitulah kata abang Bondan dengan lagu nya “Hidup Berawal Dari Mimpi”. Sampai tua gini ada gak yang belum punya mimpi ? Sungguh kalian adalah orang-orang yang merugi kalau begitu. Gue jadi inget masa-masa pas gue sekitar umur 5 tahun-an. Ya, dengan tampang polos setiap kali gue ditanya sama ayah-bunda atau om-tante, “Nanti kalo udah gede cita-citanya mau jadi apa ? “, sambil mencubit lembut pipi gue gitu sekiranya mereka bertanya. Gue jawab dengan tampang polos dengan sedikit menyedot ingus yang hampir keluar dari terowongan, “Mau jadi pak po-li-syi... sroot , teyus nanti nangkepin cemua maling-maling “. Wogh, luar biasa bocah ingusan usia 5 tahun cita-citanya mau nangkepin maling (walaupun udah gedenya kagak kesampean *uhuk).

     Tapi coba deh dibayangin, waktu kecil itu belum pernah gue dengar dari mulut teman-teman se-tk-an gue atau se-sd-an gue cita-cita mereka yang enggak bagus, pasti bagus-bagus semua. Dari yang mau jadi dokter, guru, polisi, pilot, dll. Pokoknya semua cita-cita mereka itu bagus-bagus. Sayang, entah waktu yang menghapus cita itu atau mereka yang lupa dengan apa yang mereka cita-kan. Seperti waktu yang selalu berubah, kita juga berubah. Menurut gue kita enggak lupa dengan apa yang kita cita-kan, menurut gue waktu juga enggak menghapuskan cita itu begitu aja. Hanya saja mungkin kita berfikir suatu hal lain di mana cita itu terkubur jauh di bawah hal-hal yang kita fikirin. Sebenarnya kita inget dengan baik apa yang kita cita-kan dari kita kecil, apa yang selalu kita jawab pada semua orang dengan muka polos kita mendeskripsikan apa yang kita inginkan waktu kita menjadi dewasa nanti.
           
     Setelah dewasa atau menjelang dewasa, pada masa di mana sekarang gue berada. Gue duduk dan berfikir, “ Kenapa gue jauh berbeda dari apa yang gue katakan waktu gue kecil dulu ? “. Yah, mungkin itu hanya sekedar ocehan bocah yang belum mengerti apa-apa, tapi coba dari kecil sampai gue sekarang gue terus inget semua cita-cita gue dan enggak pernah lupa sekalipun. Mungkin ada perbedaan yang mencolok. Cita-cita itu mimpi bro, kita cuma bisa menghayal tentang apa yang bisa kita dapetin pada waktu setelah detik sebelumnya, pada masa depan tepatnya. Pada masa yang kita sendiri enggak tahu apa yang akan terjadi.

     Bener tuh kata-kata nya di lirik abang Bondan, “Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi”. Waktu masih kecil kita enggak kenal gengsi, yang kita tahu yang penting main dan seneng-seneng. Kita seakan-akan memerankan diri kita yang akan ada pada masa depan, bermain selayaknya dokter yang memeriksa pasiennya atau bermain masak-masakkan selayaknya seorang juru masak terkenal. Lucu memang kalau diinget-inget, tapi secara tidak sadar dari kecil aja kita udah bercita-cita, iya bermimpi dari kecil kita sudah bermimpi loh. Itu benar, walaupun kita enggak tau nanti kita jadi atau enggak.

     Gue punya saran buat anak-anak tk yang selalu bersemangat dan ceria, “ Adik-adik-ku yang cantik dan ganteng dan pinter, terimakasih karena kalian sudah bermimpi. Terimakasih cita-cita kalian itu adalah mimpi kalian. Kalian enggak perlu mikir terlalu keras, hanya saja pesen kakak, teruslah bersandiwara layaknya apa yang kalian cita-citakan. Bermain lah seperti itu sampai nanti kalian dewasa biar kalian bisa inget terus sama mimpi kalian itu. Biar mimpi itu bisa kalian nyatakan dengan sebenar-benarnya !”.

“I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makse it worth the while
Pushing through the darkness still another mile”.

     I Have a Dream – Westlife. Memang bermimpi itu menyenangkan tapi menyatakan mimpi itu merupakan tujuan mengapa kita perlu mimpi. Pada hidup gue membawa banyak sekali mimpi kedalamnya yang semuanya ingin jadi nyata. Sebenarnya enggak ada kata telat untuk tidak bermimpi, karena sebenarnya dari awal semuanya sudah benar. Untuk closing ada sedikit kutipan dari otak gue hehe, “hidup ku awali dengan bermimpi, meyakini, dan menyatakannya di bumi ini”. Keep your dreams high and remember it !

Jumat, 25 Januari 2013

Berjumpa Cinta


Seperti mimpi bertemu kamu
Kamu nyata tapi aku ragu
Aku diam mematung terpaku

Bulan sabit telah jatuh hari ini
Ku temukan ia di senyum mu
Ah, aku masih tak tahu ...
Bangunkah aku pagi ini ?

Tiga menit waktu berlari sangat cepat
Hati menemukan hati tak tahu cinta
Aku coba mendekat meski wajah ku pucat
Ku ucapkan salam kamu balaskan senyuman

Membelah hening ku hanturkan kata,
Memecah sepi kita tertawa ..
Tujuh menit berlalu setelah bertukar nama
Kamu pergi meninggalkan tanda ..


Seperti jatuh pada pandang pertama
Ku pikir mimpi ternyata nyata
Seperti itulah ku temukan cinta
Cinta padamu pada pandang pertama ...