Jumat, 31 Mei 2013

Juni 2013



Juni 2013
                                                                     
Bulan dengan nama yang pendek itu berakhir
Sesuai dengan  namanya, singkat pula ceritanya
Tapi bukan berarti tidak ada yang berbekas
Di tiga huruf bulan itu, ada mereka yang bahagia
Gegara cita di mimpi jadi nyata
Di tiga huruf bulan itu, ada mereka yang gagal
Langit selalu bertekuk muka, tapi bukan tak pernah sumringah
Di tiga huruf bulan itu, doa adalah kiriman yang selalu berlalu lalang
Setiap surat adalah harapan yang di terbangkan kepada raja langit
Di tiga huruf bulan itu, cinta yang baru tumbuh
Segala rasa lepas begitu saja dan berpasanganlah mereka
Di tiga huruf bulan itu, ada yang terus menunggu
Setia kepada bulan yang membulat di waktu malam, purnama
Sesuai dengan namanya, singkat pula ceritanya
Tapi bukan berarti tidak bermakna
Pagi ini, langit tampak teduh—seteduh wajah ratu impian
Terbangun di Juni , di lanjutan tiga huruf bulan kemarin.

Selasa, 23 April 2013

Dikhianati



Dikhianati

Aku adalah hijau yang kau tanam
Kau siram dan kau pupuk
Aku adalah hijau yang kau hantam
Terbaring aku dan aku bertumpuk

Apa itu namanya melestarikan ?
Atau hanya menghabiskan ?

Benar kau hidupkan aku ratusan kali
Tapi kau matikan aku berjuta kali

Harusnya kau yang disalahkan !
Aku bisa saja berteman denganmu
Tapi, haruskah temanku seorang musuh?

Ini hijau yang kau dirikan ..
Ini hijau yang kau rindangkan ..
Tapi, terlalu cepat kau musnahkan.

Kamis, 18 April 2013

Dia



Dia

Dia, awan putih yang selalu hadir di langit yang cerah
Dia, bukan awan hitam yang hadir di langit yang cerah
Dia, sebuah cahaya yang menerangi di dalam gelap
Dia, bukan sebuah cahaya yang menerangi di dalam terang
Dia, kata-kata yang singkat namun begitu indah
Dia, kata-kata yang panjang namun begitu buruk
Dia, entah benar dalam salah atau salah dalam benar
Dia, entah sebuah kenyataan atau kemayaan
Dia, entah membawa harapan atau kehampaan
Dia, mungkin cuma kisah atau sebagian dari cerita
Dia, bukan pagi atau malam ku
Dia, juga bukan matahari atau purnama ku
Dia, bebas menjadi ..
Dia.

Suatu Senja Di April



Sudah hampir dua minggu April yang sendu berjalan. Tersedu-sedu seperti seorang yang sedang jatuh-sejatuh-jatuhnya. Entah kenapa April tahun ini begitu pilu, tak taulah. Seperti sebuah kisah pasti akan selalu ada klimaks dalam setiap ceritanya. Mungkin,  di suatu hari pada senja ke 17 minggu ketiga April adalah klimaksnya.

Sebenarnya yang sendu dan pilu bukan dia, April. Melainkan aku. Sebuah rasa yang sangat aneh menggrogoti hati dan pikiranku. Hatiku seperti mendung yang ditutupi awan hitam yang siap melemparkan ribuan anak panah hujannya ke tanah. Bukannya aku patah hati, tapi seperti tidak punya hati. Kosong-sekosong-kosongnya tangki bensin di sebuah pom bensin di pinggir jalan. Pikiranku seperti jalan buntu, yang setiap di coba untuk lewati selalu terhenti karena jalurnya putus. Aku tidak mengenal hati dan pikiranku, aku lupa cara merasa dan berpikir. Yang sebagaimana seharusnya, yang seperti biasanya.

April, maaf menyalahkanmu atas biru-ke-abu-abu-an yang aku rasakan. Hanya saja ini terjadi ketika aku berjalan bersamamu. Tapi, kira-kira apakah memang kamu juga merasakan hal yang sama ? Kalau saja jawabanmu adalah bukan tidak. Jika kamu tidak sama denganku maka berbeda dengan senja sore ini. Aku punya teman! Maaf, kalau aku senang melihatmu begitu senja, aku hanya terlalu senang karena aku tidak sendirian. Sepertinya, tanpa perlu kamu berbicara pun aku dapat merasakan biru pada tatapanmu. Kita sama-sama sendu dan piu. Mungkin karena awan hitam yang hinggap di langitmu, memberikan warna yang begitu menyedihkan. Sungguh kita berdua sama. Namun, sangat beruntung dan pas sekali waktumu hadir pada klimaks sendu-piluku. Ah, suram.

Karena kita sama, senja maukah kau memperlambat hadirmu di langit sore ini ? Agar dalam kosong yang hening ini setidaknya aku punya teman yang sendu-pilu walaupun dia bisu.

Senin, 18 Februari 2013

18 Febuari



Aku masih seperti daging yang menjadi basi karena terlanjur disentuh namun tak kunjung dihabiskan. Aku terus merasa sepi melebihi sunyi pada malam hari. Aku tak kunjung mengenal aku sekuat aku menjadi aku. Aku tetap tak mengerti apa yang aku tuju dan ingin ku raih. Aku ingin terus berjalan tapi seperti berjalan ditempat. Aku ingin sebuah perubahan tapi tak pernah ada tindakan. Aku selalu mencoba tapi aku terus takut pada kegagalan. Aku ingin menjadi terkenal tapi aku tidak pernah berkenalan. Aku ingin terus berlari kenyataannya aku hanya berjalan. Aku ingin bahagia tapi aku nyaman pada kepedihan. Aku tau semua hal bisa jadi mudah tapi aku lebih senang menyulitkannya. Aku pandai bersyukur lebih pandai juga mengeluh. Aku ingin sesuatu yang lebih tapi aku memberi sedikit. Aku tau itu yang benar tapi aku dekati yang salah. Aku tau aku bisa tapi aku terlalu merendah sampai-sampai melemahkan aku sendiri. Aku tau ada hal yang tak dapat dipaksakan namun selalu aku dekati.

Hari ini, tanda tanya besar ada di otakku. Tapi baik pertanyaan atau pun jawabannya aku juga tak tau. Aneh.
Selamat malam, semoga dalam tanda tanya ini cepat ku lupakan dunia yang kadang aku bingung karenanya.

Sabtu, 26 Januari 2013

26 Januari



Fajar sudah duduk disinggahsana-nya
Mencoba menyapa seluruh rakyat di bawah-nya
Aneh ..
Suaranya parau dan mukanya pucat
Tubuhnya bergetar saat ia melempar kata

            Sudah tiga senja sampai sekarang
            Ia menyembunyikan sinar-nya entah dimana
            Tak biasanya fajar begini
            Seperti raja tak ada mahkota

Andai aku bisa temukan sinar-nya
Cukup untuk kembalikan pada sang raja
Agar rakyat-nya tak pergi saat ia berkata
Supaya langit tak selalu berkaca ..