Sudah hampir dua minggu April
yang sendu berjalan. Tersedu-sedu seperti seorang yang sedang
jatuh-sejatuh-jatuhnya. Entah kenapa April tahun ini begitu pilu, tak taulah.
Seperti sebuah kisah pasti akan selalu ada klimaks dalam setiap ceritanya.
Mungkin, di suatu hari pada senja ke 17
minggu ketiga April adalah klimaksnya.
Sebenarnya yang sendu dan pilu bukan dia, April. Melainkan aku. Sebuah rasa yang sangat aneh menggrogoti hati dan pikiranku. Hatiku seperti mendung yang ditutupi awan hitam yang siap melemparkan ribuan anak panah hujannya ke tanah. Bukannya aku patah hati, tapi seperti tidak punya hati. Kosong-sekosong-kosongnya tangki bensin di sebuah pom bensin di pinggir jalan. Pikiranku seperti jalan buntu, yang setiap di coba untuk lewati selalu terhenti karena jalurnya putus. Aku tidak mengenal hati dan pikiranku, aku lupa cara merasa dan berpikir. Yang sebagaimana seharusnya, yang seperti biasanya.
Sebenarnya yang sendu dan pilu bukan dia, April. Melainkan aku. Sebuah rasa yang sangat aneh menggrogoti hati dan pikiranku. Hatiku seperti mendung yang ditutupi awan hitam yang siap melemparkan ribuan anak panah hujannya ke tanah. Bukannya aku patah hati, tapi seperti tidak punya hati. Kosong-sekosong-kosongnya tangki bensin di sebuah pom bensin di pinggir jalan. Pikiranku seperti jalan buntu, yang setiap di coba untuk lewati selalu terhenti karena jalurnya putus. Aku tidak mengenal hati dan pikiranku, aku lupa cara merasa dan berpikir. Yang sebagaimana seharusnya, yang seperti biasanya.
April,
maaf menyalahkanmu atas biru-ke-abu-abu-an yang aku rasakan. Hanya saja ini
terjadi ketika aku berjalan bersamamu. Tapi, kira-kira apakah memang kamu juga
merasakan hal yang sama ? Kalau saja jawabanmu adalah bukan tidak. Jika kamu
tidak sama denganku maka berbeda dengan senja sore ini. Aku punya teman! Maaf,
kalau aku senang melihatmu begitu senja, aku hanya terlalu senang karena aku
tidak sendirian. Sepertinya, tanpa perlu kamu berbicara pun aku dapat merasakan
biru pada tatapanmu. Kita sama-sama sendu dan piu. Mungkin karena awan hitam
yang hinggap di langitmu, memberikan warna yang begitu menyedihkan. Sungguh
kita berdua sama. Namun, sangat beruntung dan pas sekali waktumu hadir pada klimaks
sendu-piluku. Ah, suram.
Karena
kita sama, senja maukah kau memperlambat hadirmu di langit sore ini ? Agar
dalam kosong yang hening ini setidaknya aku punya teman yang sendu-pilu
walaupun dia bisu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar