Selasa, 23 April 2013

Dikhianati



Dikhianati

Aku adalah hijau yang kau tanam
Kau siram dan kau pupuk
Aku adalah hijau yang kau hantam
Terbaring aku dan aku bertumpuk

Apa itu namanya melestarikan ?
Atau hanya menghabiskan ?

Benar kau hidupkan aku ratusan kali
Tapi kau matikan aku berjuta kali

Harusnya kau yang disalahkan !
Aku bisa saja berteman denganmu
Tapi, haruskah temanku seorang musuh?

Ini hijau yang kau dirikan ..
Ini hijau yang kau rindangkan ..
Tapi, terlalu cepat kau musnahkan.

Kamis, 18 April 2013

Dia



Dia

Dia, awan putih yang selalu hadir di langit yang cerah
Dia, bukan awan hitam yang hadir di langit yang cerah
Dia, sebuah cahaya yang menerangi di dalam gelap
Dia, bukan sebuah cahaya yang menerangi di dalam terang
Dia, kata-kata yang singkat namun begitu indah
Dia, kata-kata yang panjang namun begitu buruk
Dia, entah benar dalam salah atau salah dalam benar
Dia, entah sebuah kenyataan atau kemayaan
Dia, entah membawa harapan atau kehampaan
Dia, mungkin cuma kisah atau sebagian dari cerita
Dia, bukan pagi atau malam ku
Dia, juga bukan matahari atau purnama ku
Dia, bebas menjadi ..
Dia.

Suatu Senja Di April



Sudah hampir dua minggu April yang sendu berjalan. Tersedu-sedu seperti seorang yang sedang jatuh-sejatuh-jatuhnya. Entah kenapa April tahun ini begitu pilu, tak taulah. Seperti sebuah kisah pasti akan selalu ada klimaks dalam setiap ceritanya. Mungkin,  di suatu hari pada senja ke 17 minggu ketiga April adalah klimaksnya.

Sebenarnya yang sendu dan pilu bukan dia, April. Melainkan aku. Sebuah rasa yang sangat aneh menggrogoti hati dan pikiranku. Hatiku seperti mendung yang ditutupi awan hitam yang siap melemparkan ribuan anak panah hujannya ke tanah. Bukannya aku patah hati, tapi seperti tidak punya hati. Kosong-sekosong-kosongnya tangki bensin di sebuah pom bensin di pinggir jalan. Pikiranku seperti jalan buntu, yang setiap di coba untuk lewati selalu terhenti karena jalurnya putus. Aku tidak mengenal hati dan pikiranku, aku lupa cara merasa dan berpikir. Yang sebagaimana seharusnya, yang seperti biasanya.

April, maaf menyalahkanmu atas biru-ke-abu-abu-an yang aku rasakan. Hanya saja ini terjadi ketika aku berjalan bersamamu. Tapi, kira-kira apakah memang kamu juga merasakan hal yang sama ? Kalau saja jawabanmu adalah bukan tidak. Jika kamu tidak sama denganku maka berbeda dengan senja sore ini. Aku punya teman! Maaf, kalau aku senang melihatmu begitu senja, aku hanya terlalu senang karena aku tidak sendirian. Sepertinya, tanpa perlu kamu berbicara pun aku dapat merasakan biru pada tatapanmu. Kita sama-sama sendu dan piu. Mungkin karena awan hitam yang hinggap di langitmu, memberikan warna yang begitu menyedihkan. Sungguh kita berdua sama. Namun, sangat beruntung dan pas sekali waktumu hadir pada klimaks sendu-piluku. Ah, suram.

Karena kita sama, senja maukah kau memperlambat hadirmu di langit sore ini ? Agar dalam kosong yang hening ini setidaknya aku punya teman yang sendu-pilu walaupun dia bisu.